01 July 2011

Mau Pinter Kok Mahal ?

Bener sih, kalo mau kuliah pasti perlu biaya mahal.
Cuman kalo sampai 40 s/d 200 jt kex sudah keterlaluan deh.
Kan pemerintah sudah mencoba mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN, juga didukung oleh pemerintah daerah, tentunya itu bisa membackup pembiayaan kuliah.
Lalu gimana Indonesia bisa lebih maju dan mengejar ketertinggalannya dari negara lain, kalo soal pendidikan aja mahalnya minta ampun.
Masyarakat kita ini sebagian besarnya masih mencari makan, belum mencari pendidikan yang baik.   Kita lihat di kolong2 jembatan atau di pinggir-pinggir kali, masih banyak anak-anak yatim, piatu dan janda-janda miskin yang perlu disantuni (hik hik hik, apa lagi kalo janda cantik......),  eh kok ya malah biaya pendidikan di naik lambungkan setinggi langit biru. Apa ya bisa mereka-mereka itu mengenyam pendidikan tinggi klo begitu caranya.
Ayo para penyelenggara pendidikan tinggi, kita tingkatkan empati kita kepada mereka dengan tawaran beasiswa baginya.
Atau mari bergabung dengan kami, STIKOM ARTHA BUANA KUPANG

02 May 2011

Benarkah bila Osama mati Teroris juga Mati ?

OSAMA bin LADEN
Presiden AS Barack Obama mengumumkan, pemimpin jaringan teroris internasional Al Qaeda, Osama bin Laden, telah tewas di Pakistan. Obama mengumumkan hal itu, Minggu (1/5/2011) malam waktu AS (Senin pagi WIB), dalam sebuah pidato di televisi yang disiarkan secara langsung.
Rakyat Amerika bersorak sorai atas meninggalnya pemimpin Al-qaida (katanya) ini.  Mereka menganggap bahwa dengan meninggalnya Osama, berarti keamanan dunia lebih terjamin, terorisme telah dikalahkan.  Tetapi apakah demikian realisasinya ?
Barack Obama
US President
Beberapa catatan kejadian di Indonesia menjadi salah satu parameter bahwa kejadian terorisme kadang-kadang tidak terkait satu sama lainnya. 
Ada kalanya mereka itu :

  • barisan orang sakit hati, 
  • pemahaman humanismenya yang kurang, 
  • kajian agamanya yang hanya sepotong-sepotong akan tetapi sudah berani mengkafirkan orang lain, orang gila atau 
  • masih banyak lainnya.
Kita lihat kasusnya DR. Azahari, dilanjutkan dengan si Nurdin M Top, Amrozi, Imam Samudra dan lain-lain sudah dihukum mati tumpes kelor, akan tetapi masih banyak teror yang muncul kembali dengan pelaku yang lainnya.
Lihat waktu si Ali naik sepeda onthel terus meledakkan bom sepedanya, setelah diselidiki dia agak sedikit kurang beres otaknya.
BOM Buku
Terus bom buku si Pepi Fernando, ini orang lain sama sekali dengan Kelompok DR Azahari.    Cenderung mereka mempunyai sentimen pribadi dengan orang-orang tertentu yang mereka tidak senangi, misalnya dengan saudara Ulil Abshar Abdala, Ahmad Dani dan lain sebagainya.
Terakhir adalah kasus pencucian otak oleh kelompok NII, dimana mereka merekrut mahasiswa kemudian mencekokinya dengan ideologi mereka dan memaksakan kehendak mereka pada anggotanya sehingga anggotanya tidak mampu keluar dari lingkungannya.  Dan kasus NII ini termasuk kategori teroris yang lebih berbahaya, karena yang diserang adalah otak-otak anak muda potensial.  Kemudian mereka menghalalkan mencuri, merampok, dan lain sebagainya dengan alasan dan dalil tertentu yang dibolak-balik.
KH Said Agil S
Saya setuju apa yang disampaikan KH Agil Siraj, Kematian Osama Bukanlah Akhir Radikalisme 
Kadang-kadang kita ini terlena dengan kajian-kajian, teori-teori.  Itu memang perlu akan tetapi aksi lebih diutamakan.  Seperti kata iklan di Rokok "Do More Talk Less". Iklan rokok itu lebih realistis dari pada kita-kita ini yang kebanyakan teori.   
Kalau banyak berbasis agama teror tersebut, sebaiknya para ahli agama yang perlu melakukan pencerahan kepada umatnya.  Kalau orang stress maka psikolog yang perlu bertindak dan begitu seterusnya.
Jadi menurut saya, bukan fisiknya yang diberantas akan tetapi ideologinya yang harus diluruskan.

23 April 2011

Long Trip with Trouble


-->
Pagi itu ketika orang belum banyak yang beraktifitas, aku sudah berangan akan kegiatan yang akan dilakukan. Kapan berangkat, apa yang harus dipersiapkan, siapa saja yang ikut dan kejadian macam apa yang akan menyertainya.
Ketika masih mengantuk masih bergantung pada pelupuk mata (karena malam harinya berbincang dengan teman sampai jam 3.00 pagi), aku sudah bersiap mandi, dan terutama makan pagi spesial sudah aku persiapkan (mie goreng kemasan,........hik hik hik.......nasif nasif).
Kupanasi mobil (tak stater cyekk cyekk iyek iyekkkkk nggrenngggggg..........)
Setelah semua siap, tidak lupa selalu saya cek perlengkapan di dalam mobil (barang-barang bawaan yang biasa saya bawa tentunya) berangkatlah saya ke bawah, ternyata semua juga baru bangun tidur dan saya saja yang sudah rapi mandi.
“Pak kita cari genset pagi ini aja sekira jam 9.00”, ajakku kepada temenku. “Bisa pak, cuma saya mandi dulu”, jawabnya. Sambil menunggu dia mandi, Bik Inang dah mempersiapkan teh hangat yang manis tentunya. “Makasih Bik”, teriakku. “Iya sama-sama Pak Ahmad”, jawab Bik Inang.
Rock Stoner lagi in action
Sesuai dengan persetujuan semalam dengan P Bos, (untuk beli Genset.....yang mestinya harganya lebih dari 1 juta, perkiraan saya 1.5 Juta, eh si bos malah ngotot 1 juta, ya sudah dari pada nggak dapat saya setuju, sambil berfikir bahwa nanti kalau kurang saya akan minta lagi).
Setelah berputar-putar mencari, dapatlah kita, dan hampir sesuai perkiraanku harga genset di atas 1 juta dan dengan tambahan lampu dan perlengkapan listrik lainnya total sekitar 1.5 juta.
Pulanglah kita ke kampus untuk mempersiapkan peserta Diklatsar I MAPALA “Rock Stone” . Sekitar jam 11.00 persiapan pemberangkatan sudah selesai dan Ketua STIKOM sudah dipanggil. Acara seremonial pemberangkatan dilaksanakan. Acara demi acara dilalui dengan lancar, tibalah pada acara sambutan-sambutan.
Pembina Lagi Ngomong
Penonton haraf Diam
“Sambutan selanjutnya akan disampaikan oleh Pembina MAPALA “Rock Stone”, pembawa acara memanggil. Saya hanya tolah-toleh (tengok kanan dan kiri), Ketua Umum nepuk pundak saya, “Sekarang pak yang maju”, bisiknya. Terkejutlah saya, karena saya bukan lagi orang dalam di lingkungan Kampus itu dan saya didaulat untuk menyambut sebagai pembina. Ya tidak apalah pikirku, toh ini adalah bentuk dukunganku atas berdirinya MAPALA yang di Nusa Tenggara Timur seperti mati suri. Dalam hati saya bertekad untuk dapat membesarkan MAPALA ini sehingga mampu berbicara di pentas regional, nasional maupun internasional.
Jam 12 siang ternyata kita masih menunggu 1 orang anggota yang belum muncul di kampus, ya sudah kita tunggu. Setelah datang kita berangkat, akan tetapi karena saya ketinggalan batteray HP di rumah bawah, saya memutuskan untuk mengambilnya. Sampai di rumah bawah saya ambil baterai dan saya pasang, alhamdulillah bisa digunakan. Ketika mau berangkat, ini perut juga minta diisi yang sebenarnya juga sudah waktunya makan siang. Makanlah kita dengan kecepatan tinggi (mobil kaleeeeee.....) karena terdesak oleh waktu yang sudah menunjukkan pukul 13.00. Selesai makan kita berangkat, tidak lupa saya menyiapkan brosur yang akan saya sebarkan sepanjang perjalanan ke Takari.
Sesampai di Oesao aku lihat sepanjang jalan banyak dijual pisang yang saya suka dan selayaknya aku memang harus beli karena ini perut ternyata masih kepingin diganjal lagi. Berhentilah kita di salah satu penjual pisang tersebut. “Ciiiiiiiittttt........”bunyi rem yang diinjak mas sopir (Parman, wah sudah jadi mas Parman ya, selamat ya entar dicarikan mbak-mbak....hik hik hik).
Tawar menawar saya lakukan dan akhirnya aku borong semua pisang yang di atas meja dan tidak lupa aku berikan brosur yang aku bawa. “Ini kampus baru kah om “, tanyanya. “Bukan eh iya “,jawabku. “Ini kampus bonafid yang perlu dipertimbangkan untuk dicari”, promosiku.
Setelah urusan pisang selesai berangkatlah kita dan ketika ketemu dengan rombongan anak-anak yang menggunakan truk, aku bagikan sebagian besar pisang kepada mereka. Merekapun bersorak “Hore dapat pisang...........!!!!!!!!”. Pikirku wah mereka senang ya, kayak monyet saja mereka......(hik hik hik........)
Setelah beberapa saat berkendara tibalah saya di pertigaan masuk desa Benu. Masuklah kita dengan rombongan dengan perlahan-lahan menyusuri jalan seperti perkiraan kemarin sesampai di jembatan yang rusak, kami memutar otak (sampai......puyeng........diputer-puter........) bagaimana caranya menyeberang dengan membawa serta semua perlengkapan yang ada di atas truk.
Dorong Terus.....
Pasukan Katak lagi liat Katak

Setelah berfikir, Taruna memang nggak bisa masuk, akan tetapi truk (menurut perkiraan sopir, si Kecik.....) truk bisa masuk. Maka bersiaplah dia mau injak pedal gas. Brummm rummm ruuumm rum rum mmmmmmm, masuklah dia ke dalam kubangan lumpur penuh dosa (hla ini mang bicara apaan...........). Berkelok-keloklah jalan truk, meliuk dan meliuk mengikuti alur jalan sebelumnya. Sesampai di seberang sungai dan bagian menanjak, Truk mulai keliatan tidak kuat, dan tertarik mundir kembali (karena jalan licin dan mendaki.............sehingga roda berputar cepat akan tetapi nggak bisa naik). “Awas rem-rem-rem.......”, teriak kita bersaut-sautan. Akan tetapi karena licinnya Medan dan Palembang (eh......ngelantur lagi.......) Truk tertarik masuk kembali ke sungai. “Doma....doma....doma saja “, teriak kita. (Doma (bukan Dona loh......) adalah nama sebutan dongkrak mobil di Nusa Tenggara Timur).
Dapat Lele Kah Bos ?
Sopir keluar dengan membawa doma, dan mulai berjibaku di bawah bak truk untuk mengangkat ban belakang supaya bisa diganjal dengan batu. Setelah naik dan diganjal dengan batu, “ayo mulai starter otto”, teriakku. “Jangan lupa kita dorong rame-rame”, lanjutku. “Dorong.........dorong........dorong “, teriak kita serempak. Tetapi truk tetap tidak bergerak maju. Terlihat ban depan kiri juga makin tenggelam dalam kubangan lumpur penuh duri (eh.....mulai lagi ngelantur.......). Sehingga meskipun ban belakang berusaha keras berputar tetapi tetap ngga bisa keluar. “Gali....gali saja”, teriak yang lain. Mulailah kita menggali. Gali gali gali gali gali gali.............
“Ayo dicoba lagi maju”, teriakku (dengan pakaian compang-camping robek sana dan sini …....eh mulai ngelantur lagi..maksudku aku dah dalam kondisi tinggal pake celana dan kaos dalam doang dengan diguyur hujan berbaur dengan lumpur dosa.......lengkap sudah penderitaan ini). Kita semua seperti pejuang yang telah kehabisan energi karena dari siang belum makan.      (bersambung)

03 April 2011

STIKOM ARTHA BUANA KUPANG

Bagi saudara-saudari yang kepingin kuliah dengan biaya terjangkau dan kualitas yang ok, mari bergabung dengan STIKOM ARTHA BUANA KUPANG.
Berikut informasi pendaftaran yang bisa dipelajari.
STIKOM ARTHA BUANA KUPANG

30 March 2011

Perjalanan Panjang

Ketika awal akhir tahun 2001, ada seorang tenaga edukatif di perguruan tinggi di Malang yang mempunyai alumni dibeberapa tempat di seluruh Indonesia bahkan di dunia.   Dia adalah orang bersahaja tetapi berdedikasi  serta disiplin tinggi.  Hal itu dikarenakan tempaan saat dia menjadi mahasiswa.   Hampir semua aktifitas intra dan ekstra kampus diikutinya, mulai dari Senat Mahasiwa, Resimen, Pers Kampus, Pencinta Alam, Olah raga dan Kerohanian.
Dia adalah aktifis yang hidup dan kuliah dari hasil kerja professional sebagai aktifis tersebut.  Membuat proposal adalah suatu kebiasaan, memimpin teman-temanya dalam berorganisasi dan bermusyawarah adalah suatu kebiasaan.  Sehingga akhirnya menjadi bagian hidup dia menjadi motivasi bagi mahasiswa-mahasiswanya.
Karena dorongan dan permintaan dari salah satu alumninya, dia diajak berkunjung ke Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk melihat sebuah perguruan tinggi yang baru berdiri. 
Dalam perjalanan waktu, jadilah dia menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan perguruan tinggi tersebut, yaitu perguruan tinggi ternama di kota itu.
Di perguruan tinggi tersebut, dia sangat aktif mendorong semua UKM untuk bisa berjalan dan berkembang serta kreatif, sehingga akhirnya UKM-UKM serta situasi  kampus di perguruan tinggi tersebut menjadi hidup. 
Dia menganggap mahasiswa adalah anak-anaknya yang setiap saat bisa curhat padanya.  Pintu dia selalu terbuka untuk siapapun apalagi untuk mahasiswanya.  Suatu kemuliaan padanya adalah tentang pemahaman bahwa Tenaga Edukatif adalah bukan hanya proses knowledge transfer tetapi juga harus bisa menjadi pendidik yang menitik beratkan unsur softskill  kepada mahasiswanya.  Karena pemahaman tersebut, dia tidak pernah memberikan ilmu yang dia punya hanya setengah-setengah, dia akan memberikan ilmu secara utuh, tuntas dan ikhlas.
Suatu pagi seperti biasa, dia sudah berangkat ke kampusnya sebelum anak-anak kampus datang.  Hari itu hari Senin, dia akan mengajar pada jam 7.00.  Ternyata dia sudah sampai di kampus jam 6.20. sungguh suatu contoh bagi yang lain untuk lebih menghargai waktu dengan tidak terlambat.
Ketika masih dikelas sedang mengajar, ada sms masuk di hp-nya. “Pak ada di kampus ko ? saya mau ketemu “, sms seorang mahasiswa. “Ya, saya dikampus, nanti setelah jam 9 ya ?, jawabnya.
Sekitar jam 9.10  datanglah seorang mahasiswi yang tad sms.  “Assalamu’alaikum pak !”, sapa mahasiswi tersebut.    “Alaikum salam”, jawabnya. “masuk aja”, lanjutnya.   Selanjutnya mahasiswi tersebut bercerita panjang lebar tentang diri dan keluarganya.  Sang dosen mendengarkan segala apa yang menjadi persoalannya.   Pada saat tengah-tengah serunya dia bercerita, temen dia telepon “Pak ono kampus ta ?”, tanyanya “iyo mas, aku nok kampus (iya mas, saya dikampus) !”jawab dosen tersebut.  “Sampeyan arep mrene ta ? (Kamu mau ke sini kah ?)”, lanjutnya.  “Iyo mas, opo aku oleh nempel pengumuman lowongan neng kampus ? (Apa saya boleh menempel pengumuman lowongan di kampus ?)”, lanjutnya.  “yo yo yo, oleh oleh oleh ? “(ya ya ya boleh boleh boleh), jawab dosen tersebut.  Meluncurlah dia ke kampus dosen itu.  Sampai dikampus dia cerita tentang lowongan tersebut, bahwa ini untuk sarjana dan bisa dipekerjakan di dalam atau di luar kantor. “Hla daripada adoh adoh mbok bocah iki ae, tapi during lulus  (Hla daripada jauh-jauh, anak ini saja, tapi belum lulus”), tawar dosen tersebut.  “Yo ra pop o, tapi sampeyan gawekne surat keterangan sedang menempuh tugas akhir yo !”, pintanya.  “Iyo engko tak gawekne”, jawab .
Besoknya, mahasiswa tadi sudah menyiapkan material perlengkapan untuk melamar pekerjaan tersebut, seperti surat lamaran, curriculum vitae.  Meluncurlah dia ke perusahaan yang dituju tersebut.  Sampai disana diserahkan semua perlengkapan tersebut. 
Selang beberapa hari, teman dosen yang nempel penguman telpon ke dosen.  “Mas, sampeyan gawekne opo ngono lo mas, sing luwih sakti tak gawe administrative, ben engko gajine rodo duwur”, tanya dia.   “Maksudte sampeyan piye mas ?, iki aku rodo ra ngerti”, jawab dosen.  “Gawekne copy ijazah ae, engko sing nyekel aku dewe, aman-aman” katanya……….(bersambung)