23 April 2011

Long Trip with Trouble


-->
Pagi itu ketika orang belum banyak yang beraktifitas, aku sudah berangan akan kegiatan yang akan dilakukan. Kapan berangkat, apa yang harus dipersiapkan, siapa saja yang ikut dan kejadian macam apa yang akan menyertainya.
Ketika masih mengantuk masih bergantung pada pelupuk mata (karena malam harinya berbincang dengan teman sampai jam 3.00 pagi), aku sudah bersiap mandi, dan terutama makan pagi spesial sudah aku persiapkan (mie goreng kemasan,........hik hik hik.......nasif nasif).
Kupanasi mobil (tak stater cyekk cyekk iyek iyekkkkk nggrenngggggg..........)
Setelah semua siap, tidak lupa selalu saya cek perlengkapan di dalam mobil (barang-barang bawaan yang biasa saya bawa tentunya) berangkatlah saya ke bawah, ternyata semua juga baru bangun tidur dan saya saja yang sudah rapi mandi.
“Pak kita cari genset pagi ini aja sekira jam 9.00”, ajakku kepada temenku. “Bisa pak, cuma saya mandi dulu”, jawabnya. Sambil menunggu dia mandi, Bik Inang dah mempersiapkan teh hangat yang manis tentunya. “Makasih Bik”, teriakku. “Iya sama-sama Pak Ahmad”, jawab Bik Inang.
Rock Stoner lagi in action
Sesuai dengan persetujuan semalam dengan P Bos, (untuk beli Genset.....yang mestinya harganya lebih dari 1 juta, perkiraan saya 1.5 Juta, eh si bos malah ngotot 1 juta, ya sudah dari pada nggak dapat saya setuju, sambil berfikir bahwa nanti kalau kurang saya akan minta lagi).
Setelah berputar-putar mencari, dapatlah kita, dan hampir sesuai perkiraanku harga genset di atas 1 juta dan dengan tambahan lampu dan perlengkapan listrik lainnya total sekitar 1.5 juta.
Pulanglah kita ke kampus untuk mempersiapkan peserta Diklatsar I MAPALA “Rock Stone” . Sekitar jam 11.00 persiapan pemberangkatan sudah selesai dan Ketua STIKOM sudah dipanggil. Acara seremonial pemberangkatan dilaksanakan. Acara demi acara dilalui dengan lancar, tibalah pada acara sambutan-sambutan.
Pembina Lagi Ngomong
Penonton haraf Diam
“Sambutan selanjutnya akan disampaikan oleh Pembina MAPALA “Rock Stone”, pembawa acara memanggil. Saya hanya tolah-toleh (tengok kanan dan kiri), Ketua Umum nepuk pundak saya, “Sekarang pak yang maju”, bisiknya. Terkejutlah saya, karena saya bukan lagi orang dalam di lingkungan Kampus itu dan saya didaulat untuk menyambut sebagai pembina. Ya tidak apalah pikirku, toh ini adalah bentuk dukunganku atas berdirinya MAPALA yang di Nusa Tenggara Timur seperti mati suri. Dalam hati saya bertekad untuk dapat membesarkan MAPALA ini sehingga mampu berbicara di pentas regional, nasional maupun internasional.
Jam 12 siang ternyata kita masih menunggu 1 orang anggota yang belum muncul di kampus, ya sudah kita tunggu. Setelah datang kita berangkat, akan tetapi karena saya ketinggalan batteray HP di rumah bawah, saya memutuskan untuk mengambilnya. Sampai di rumah bawah saya ambil baterai dan saya pasang, alhamdulillah bisa digunakan. Ketika mau berangkat, ini perut juga minta diisi yang sebenarnya juga sudah waktunya makan siang. Makanlah kita dengan kecepatan tinggi (mobil kaleeeeee.....) karena terdesak oleh waktu yang sudah menunjukkan pukul 13.00. Selesai makan kita berangkat, tidak lupa saya menyiapkan brosur yang akan saya sebarkan sepanjang perjalanan ke Takari.
Sesampai di Oesao aku lihat sepanjang jalan banyak dijual pisang yang saya suka dan selayaknya aku memang harus beli karena ini perut ternyata masih kepingin diganjal lagi. Berhentilah kita di salah satu penjual pisang tersebut. “Ciiiiiiiittttt........”bunyi rem yang diinjak mas sopir (Parman, wah sudah jadi mas Parman ya, selamat ya entar dicarikan mbak-mbak....hik hik hik).
Tawar menawar saya lakukan dan akhirnya aku borong semua pisang yang di atas meja dan tidak lupa aku berikan brosur yang aku bawa. “Ini kampus baru kah om “, tanyanya. “Bukan eh iya “,jawabku. “Ini kampus bonafid yang perlu dipertimbangkan untuk dicari”, promosiku.
Setelah urusan pisang selesai berangkatlah kita dan ketika ketemu dengan rombongan anak-anak yang menggunakan truk, aku bagikan sebagian besar pisang kepada mereka. Merekapun bersorak “Hore dapat pisang...........!!!!!!!!”. Pikirku wah mereka senang ya, kayak monyet saja mereka......(hik hik hik........)
Setelah beberapa saat berkendara tibalah saya di pertigaan masuk desa Benu. Masuklah kita dengan rombongan dengan perlahan-lahan menyusuri jalan seperti perkiraan kemarin sesampai di jembatan yang rusak, kami memutar otak (sampai......puyeng........diputer-puter........) bagaimana caranya menyeberang dengan membawa serta semua perlengkapan yang ada di atas truk.
Dorong Terus.....
Pasukan Katak lagi liat Katak

Setelah berfikir, Taruna memang nggak bisa masuk, akan tetapi truk (menurut perkiraan sopir, si Kecik.....) truk bisa masuk. Maka bersiaplah dia mau injak pedal gas. Brummm rummm ruuumm rum rum mmmmmmm, masuklah dia ke dalam kubangan lumpur penuh dosa (hla ini mang bicara apaan...........). Berkelok-keloklah jalan truk, meliuk dan meliuk mengikuti alur jalan sebelumnya. Sesampai di seberang sungai dan bagian menanjak, Truk mulai keliatan tidak kuat, dan tertarik mundir kembali (karena jalan licin dan mendaki.............sehingga roda berputar cepat akan tetapi nggak bisa naik). “Awas rem-rem-rem.......”, teriak kita bersaut-sautan. Akan tetapi karena licinnya Medan dan Palembang (eh......ngelantur lagi.......) Truk tertarik masuk kembali ke sungai. “Doma....doma....doma saja “, teriak kita. (Doma (bukan Dona loh......) adalah nama sebutan dongkrak mobil di Nusa Tenggara Timur).
Dapat Lele Kah Bos ?
Sopir keluar dengan membawa doma, dan mulai berjibaku di bawah bak truk untuk mengangkat ban belakang supaya bisa diganjal dengan batu. Setelah naik dan diganjal dengan batu, “ayo mulai starter otto”, teriakku. “Jangan lupa kita dorong rame-rame”, lanjutku. “Dorong.........dorong........dorong “, teriak kita serempak. Tetapi truk tetap tidak bergerak maju. Terlihat ban depan kiri juga makin tenggelam dalam kubangan lumpur penuh duri (eh.....mulai lagi ngelantur.......). Sehingga meskipun ban belakang berusaha keras berputar tetapi tetap ngga bisa keluar. “Gali....gali saja”, teriak yang lain. Mulailah kita menggali. Gali gali gali gali gali gali.............
“Ayo dicoba lagi maju”, teriakku (dengan pakaian compang-camping robek sana dan sini …....eh mulai ngelantur lagi..maksudku aku dah dalam kondisi tinggal pake celana dan kaos dalam doang dengan diguyur hujan berbaur dengan lumpur dosa.......lengkap sudah penderitaan ini). Kita semua seperti pejuang yang telah kehabisan energi karena dari siang belum makan.      (bersambung)

03 April 2011

STIKOM ARTHA BUANA KUPANG

Bagi saudara-saudari yang kepingin kuliah dengan biaya terjangkau dan kualitas yang ok, mari bergabung dengan STIKOM ARTHA BUANA KUPANG.
Berikut informasi pendaftaran yang bisa dipelajari.
STIKOM ARTHA BUANA KUPANG